KOTA YOGYAKARTA -- Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega Tingkat Cabang (DKC) Kota Yogyakarta mengikuti kegiatan Kelas Ekstra Pembinaan Pramuka Jogja (KePPO) #13 Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Dewan Kerja Daerah (DKD) Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu (15/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Kopi Luwak Mataram, Jalan Pelemwulung No. 15, Plumbon, Banguntapan, Bantul, tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi Pramuka Penegak dan Pandega untuk memperkuat kemampuan publikasi serta membangun citra organisasi di era digital.
Kegiatan diikuti sekitar 25 peserta yang merupakan perwakilan Dewan Kerja Cabang dan Pramuka Penegak dari berbagai Gugusdepan se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara dipandu oleh Kak Nanang Slamat Riyadi dari DKD DIY.
Dalam pembukaannya, disampaikan bahwa KePPO hadir sebagai wadah untuk mewadahi dan memfasilitasi Pramuka Penegak dan Pandega melalui kelas tambahan pembinaan. Kehadiran forum ini dinilai semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan media digital yang menuntut organisasi kepramukaan untuk mampu beradaptasi, berkomunikasi, serta memperkenalkan berbagai kegiatannya kepada masyarakat melalui ruang digital.
Sesi pertama menghadirkan Kak Riris Puspita Wijaya, S.T., M.Acc. dengan materi "Menjaga Eksistensi Penegak dan Pandega: Transformasi Publikasi di Era Digital". Dalam pemaparannya, Kak Riris membahas berbagai tantangan yang dihadapi Pramuka Penegak dan Pandega saat ini, mulai dari keberagaman minat anggota muda hingga persaingan dengan komunitas dan organisasi lain dalam menarik perhatian masyarakat.
Menurutnya, media sosial dan situs web kini menjadi salah satu jendela awal bagi masyarakat untuk mengenal sebuah organisasi. Karena itu, publikasi kegiatan tidak cukup hanya menyampaikan informasi mengenai agenda yang telah dilaksanakan, tetapi juga perlu menghadirkan konten yang edukatif dan memiliki sisi human interest agar mampu membangun kedekatan dengan audiens.
Ia turut memperkenalkan formula konten 70-20-10, yang terdiri atas cerita manusia, edukasi, dan informasi, serta lima pilar konten organisasi. Dalam penyampaiannya, ia menekankan pentingnya menghindari penggunaan media sosial organisasi hanya sebagai sarana menyampaikan pengumuman.
"Jangan jadikan media sosial organisasi sekadar papan pengumuman digital."
Kak Riris juga menekankan bahwa publikasi seharusnya dirancang sejak sebuah kegiatan masih berada pada tahap perencanaan. Strategi tersebut dapat diterapkan melalui penyusunan konten sebelum kegiatan, dokumentasi dan publikasi saat kegiatan berlangsung, hingga pengemasan cerita setelah kegiatan selesai.
Sesi kedua dilanjutkan oleh Kak Muhammad Hafidz Arofat, S.Pd., M.A. dengan materi "Akselerasi Citra Digital". Ia mengajak peserta memahami perkembangan konten video singkat yang banyak diminati di berbagai platform, seperti TikTok dan Instagram Reels.
Dalam pemaparannya, Kak Arofat mengingatkan bahwa viralitas bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah konten. Konten yang baik tetap perlu memiliki nilai, baik berupa informasi, inspirasi, maupun hiburan. Untuk menghasilkan konten yang menarik, ia memperkenalkan formula sederhana berupa Hook + Value + Call to Action, dengan perhatian khusus pada beberapa detik pertama video.
"Yang menentukan mereka betah atau tidak itu lima detik pertama videonya," ujar Kak Arofat.
Selain membahas strategi pengemasan ide, peserta juga memperoleh gambaran mengenai alur produksi konten, mulai dari penyusunan naskah, pengambilan gambar, pembuatan voice over, hingga proses penyuntingan menggunakan aplikasi yang mudah diakses, seperti CapCut.
Peserta juga didorong untuk lebih peka terhadap perkembangan tren di media sosial. Salah satu pendekatan yang dikenalkan adalah prinsip amati, tiru, modifikasi (ATM), yang dapat diterapkan dengan menyesuaikan tren yang berkembang ke dalam konteks dan karakteristik kegiatan kepramukaan.
Melalui KePPO #13 Tahun 2026, DKC Kota Yogyakarta memperoleh tambahan wawasan mengenai strategi publikasi digital yang dapat diterapkan dalam kegiatan organisasi. Pengetahuan tersebut diharapkan mampu mendukung proses dokumentasi dan penyebarluasan berbagai kegiatan pembinaan Pramuka Penegak dan Pandega di Kota Yogyakarta.
Lebih dari sekadar meningkatkan kemampuan membuat konten, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong Pramuka Penegak dan Pandega untuk lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan publikasi yang kreatif, informatif, dan relevan, semangat pengabdian serta berbagai aktivitas kepramukaan diharapkan dapat semakin dikenal dan memberikan inspirasi bagi masyarakat luas.
