Kwarcab Kota Yogyakarta Ikuti KIE Peningkatan Kesadaran Bahaya Penyalahgunaan Obat dan Penanggulangan TBC

Yogyakarta — Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Yogyakarta turut berpartisipasi dalam kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Peningkatan Kesadaran Bahaya Penyalahgunaan Obat dan Penanggulangan TBC melalui Pengawasan Obat yang dilaksanakan pada Kamis, 7 Mei 2026 di Hotel Malioboro. Kegiatan dimulai pada pukul 08.30 WIB dan diikuti oleh berbagai unsur masyarakat serta organisasi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Yogyakarta dalam kegiatan ini diwakili oleh Kak Amin Sapto dan Kak Fitri Haryanti.

Menghadirkan peserta kegiatan dari berbagai unsur diantaranya Dinas Kesehatan Provinsi DIY, Tim Penggerak PKK se-DIY, Kwarda dan Kwarcab se-DIY, Himpunan Mahasiswa Farmasi Indonesia, PW Fatayat NU, Aisyiyah, Muslimat, Salimah, Dharma Wanita DIY, SIGAB, PPDI, YLKI, hingga SAPDA.

Acara dibuka oleh Direktur Pengawasan Keamanan, Mutu dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif, Nova Emelda. Dalam sambutannya, disampaikan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyalahgunaan obat serta penanggulangan penyakit TBC.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Dinas Kesehatan Provinsi DIY mengenai strategi penanggulangan TBC menuju eliminasi tahun 2030. Selanjutnya, Badan POM memberikan edukasi terkait upaya membangun kesadaran keluarga untuk menghentikan penyalahgunaan obat dan NAPZA sejak dini.

Dalam sesi materi juga disampaikan bahwa penggunaan vape yang saat ini marak di kalangan generasi muda berpotensi menjadi media penyalahgunaan obat dan narkoba. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan dapat menjauhi penggunaan vape dan meningkatkan kesadaran terhadap dampak buruk penyalahgunaan obat serta NAPZA bagi kesehatan tubuh. Penyalahgunaan zat tersebut diketahui dapat menurunkan imunitas tubuh sehingga lebih rentan terpapar penyakit, termasuk TBC.

Selain sesi materi, kegiatan juga diisi dengan sharing pengalaman dari Aisyiyah Muhammadiyah terkait peran organisasi dalam penanganan TBC di masyarakat. Peserta juga mendapatkan pengalaman langsung melalui sesi berbagi dari mantan penderita TBC serta pendamping TBC mengenai proses pendampingan, pengobatan, hingga pentingnya dukungan lingkungan dalam proses penyembuhan pasien.

Melalui kegiatan ini, seluruh peserta diharapkan mampu menjadi “agent of change” di lingkungan masing-masing dalam menyuarakan pentingnya hidup sehat serta pencegahan penyalahgunaan obat dan NAPZA. Krisis ganda TBC dan penyalahgunaan NAPZA dinilai tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah saja, namun membutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat. (nar)

Pewarta : Kak Fitri Haryanti

Previous Post Next Post