KOTA YOGYAKARTA -- Aroma masakan yang menggugah selera memenuhi area SMA Santa Maria Yogyakarta pada Jumat, 24 April 2026. Bukan berasal dari kantin, aroma tersebut rupanya bersumber dari kreativitas para anggota Pramuka Penegak yang tengah mengikuti latihan rutin dengan materi khusus, Memasak Rimba.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh anggota ambalan dengan antusiasme tinggi. Berbeda dengan memasak di dapur rumah, dalam latihan kali ini para siswa ditantang untuk mengolah bahan makanan dengan peralatan terbatas, mensimulasikan kondisi saat sedang berkemah atau berada di alam bebas.
Para peserta dibagi ke dalam beberapa sangga. Setiap sangga tampak bahu-membahu menyiapkan menu andalan mereka. Ada yang bertugas membersihkan bahan masakan, menjaga nyala api agar tetap stabil, hingga meracik bumbu dengan bahan-bahan sederhana yang mereka bawa.
Kegiatan ini tidak hanya sekadar mengolah makanan agar matang, tetapi juga menguji ketangkasan peserta dalam manajemen waktu dan sumber daya. Canda tawa pecah di sela-sela kepulan asap, membuktikan bahwa materi teknik kepramukaan (tekpram) bisa disampaikan dengan cara yang sangat menyenangkan.
Materi memasak memiliki kandungan pesan edukatif yang sangat mendalam bagi seorang Penegak. Anggota Pramuka dilatih untuk mampu bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri dalam kondisi apa pun.
Memasak adalah kerja tim. Ada proses komunikasi, pembagian tugas, dan penyelarasan ego demi menghasilkan hidangan yang bisa dinikmati bersama. Menjaga api agar tidak padam dan memastikan masakan matang sempurna membutuhkan kesabaran ekstra—sebuah cerminan karakter yang ingin dibangun dalam Gerakan Pramuka.
Puncak dari latihan hari ini adalah sesi penilaian dan makan bersama. Setiap sangga menyajikan masakan mereka dan kemudian penilaian dilakukan Dewan Ambalan dan Pembina.
Melalui asyiknya materi memasak ini, Pramuka SMA Santa Maria Yogyakarta kembali membuktikan bahwa belajar karakter bisa dilakukan melalui cara yang lezat dan berkesan.
